Kegagalan Kelas Bawah Dan Menengah Menangani Masalah Uang

Orang Miskin melihat masalah uang hanya sebagai masalah. Banyak yang merasa menjadi korban uang. Banyak yang merasa menjadi satu-satunya yang mengalami masalah uang. Mereka mengira kalau mereka punya lebih banyak uang, masalah uang mereka akan berakhir. Mereka hampir tidak tahu bahwa sikap mereka terhadap uang-lah yang menjadi masalah.


Sikap mereka menciptakan masalah uang mereka. Ketidakmampuan mereka memecahkannya, atau tindakan menghindarinya, hanya memperpanjang masalah uang mereka dan menjadikannya makin besar. Alih-alih makin kaya, mereka jadi makin miskin. ALih-alih meningkatkan IQ keuangan, satu-satunya hal yang ditingkatkan oleh orang miskin adalah masalah keuangan

Sementara orang miskin adalah korban uang, orang kelas menengah adalah tawanan uang. Kelas Menengah memecahkan masalah keuangan secara berbeda. Alih-alih memecahkan masalah keuangan, mereka mengira bisa mengakalinya. Kelas menengah menghabiskan uang untuk sekolah supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang aman. Kebanyakan cuku cerdas untuk bisa menghasilkan uang dan membuat tembok pelindung , zona penyangga, antara mereka dan masalah uang mereka.

Mereka membeli rumah, pergi-pulang ke dan dari kantor, bermain aman, mendaki tangga karier, dan menabung untuk masa pensiun dengan membeli saham, obligasi, serta reksa dana. Mereka yakin pendidikan mereka cukup untuk melindungi mereka dari dunia uang yang kejam.

Pada Usia 50 tahun, banyak orang kelas menengah mendapati bahwa mereka adalah tawanan kantor mereka sendiri. Banyak dari mereka adalah karyawan berharga. Mereka berpengalaman. Mereka menghasilkan cukup banyak uang dan punya pekerjaan yang cukup aman. Namun, di lubuk hati terdalam Mereka tahu bahwa mereka terjebak seara keuangan, dan mereka kurang memiliki kecerdasan keuangan untuk kabur dari penjara kantor mereka. Mereka menanti, bertahan selama lima belas tahun lagi, sehingga pada usia 65 tahun bisa pensiun dan mulai hidup, tentu saja dengan anggaran ketat.

Kelas menengah menganggap diri mereka bisa mengakali masalah uang dengan menjadi cerdas secara akademis dan profesional. Kebanyakan dari mereka kurang memiliki pendidikan keuangan, yang membuat mereka cenderung lebih menghargai keamanan keuangan daripada tantangan keuangan. Alih-aih menjadi wirausaha, mereka bekerja untuk wirausaha. Alih-alih berinvestasi, mereka menyerahkan pengelolaan uang kepada ahli keuangan. Alih-alih meningkatkan IQ keuangan, mereka menyibukkan diri, bersembunyi di Kantor.

Saat orang kaya mengalami masalah uang, mereka menggunakan integritas keuangan mereka, yang terbentuk dari bertahun-tahun menghadapi dan memecahkan masalah keuangan dengan kecerdasaannya. Kebanyakan orang menganggap "integritas" sebagai konsep etis, padahal bukan itu, integritas adalah keseluruhan, maknanya adalah kualitas atau keadaan penuh atau tak terbagi.

Kalau tidak tahu cara menangani masalah uang, orang kaya tidak pergi dan menyerah. Mereka mencari ahli yang bisa membantu memecahkannya. Dalam prosesnya, mereka menjadi makin cerdas secara keuangan dan jauh makin memiliki bekal untuk memecahkan masalah selanjutnya yang timbul. Orang kaya tidak berhenti belajar. Dengan belajar, mereka menjadi semakin kaya

Sumber : Buku Rich Dad's : Increase Your Financial IQ. Karya Robert T. Kiyosaki.

Comments